Bagi lembaga-lembaga dunia dan
negara-negara maju jumlah penduduk yang besar adalah ancaman. Apalagi pada
Oktober tahun 2011 yang lalu jumlah penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar.
Menurut mereka, dunia saat ini dihadapkan pada ancaman kekurangan pangan dan
cadangan air bersih, termasuk Indonesia. Oleh karena itu semua negara diminta
untuk menekan dan mengendalikan pertambahan penduduk. Terlebih lagi pada
faktanya, kualitas penduduk Indonesia masih rendah karena banyaknya jumlah
penduduk miskin yang terus bertambah. Kesenjangan dengan penduduk kaya pun
semakin lebar. Bukti yang tidak terbantahkan adalah IPM (indeks pembangunan
manusia) Indonesia hanya berada pada urutan 124 dan peringkat 7 di ASEAN.
Dengan sederet kondisi minus tadi,
maka Indonesia harus membatasi jumlah penduduk. Apalagi sekarang ini
jumlah penduduk Indonesia menempati urutan keempat di dunia setelah India,
China dan Amerika Serikat. Indonesia harus menekan jumlah kelahiran karena
ternyata laju pertambahan penduduk Indonesia termasuk yang tinggi diantara
negara dunia. Indonesia menjadi negara penyumbang penduduk terbanyak kelima
di dunia dengan pertambahan penduduk 3,5 -4 juta per tahun.
Namun, apakah
kekhawatiran-kekhawatiran tersebut rasional atau hanya sekedar propaganda demi
kepentingan politik tertentu? Ketakutan akan kekurangan pangan sebenarnya
beerkembang karena pemikiran yang diadopsi Barat dari teori Malthus yang
mengatakan ‘pertambahan penduduk mengikuti deret hitung, sementara
pertambahan kebutuhan pangan mengikuti deret ukur“. Oleh karena itu
cadangan pangan dunia akan mengalami kekurangan dengan pertambahan penduduk.
Faktanya dunia memiliki cadangan pangan yang melimpah, namun masih saja
kelaparan terjadi di mana-mana. Jelaslah, persoalan sebenarnya bukan pada
ketersediaan pangan, namun pada distribusi pangan. Dan wajar kekurangan
pangan menimpa penduduk miskin dunia, karena orang-orang kaya terlalu cinta
pada harta dan tidak memiliki kepedulian kepada orang miskin. Inilah sikap
hidup yang lahir dari Kapitalisme. Ketakutan akan kekurangan pangan ini
juga sengaja dipropagandakan agar negara tidak memiliki jumlah penduduk yang
besar. Jumlah yang besar akan menjadi salah satu kekuatan, apalagi jika
dibarengi dengan kualitas SDM nya. Tentu ini tidak dikehendaki oleh
negara-negara Barat. Apalagi bila terjadi di Indonesia, negara dengan jumlah
muslim yang sangat besar di dunia. Realita tumbuhnya kesadaran untuk menerapkan
syariat Islam yang makin meningkat di kalangan kaum muslim Indonesia
mengancam eksistensi Barat.
Pada perkembangan berikutnya di
Indonesia, kemiskinan akhirnya dijadikan sebagai alasan penggiatan program
Keluarga Berencana (KB). Memang benar, saat ini kemiskinan adalah potret
utama keluarga muslim di Indonesia. Jumlah penduduk miskin (dengan pengeluaran
per bulan Rp 211.726 ) Indonesia berjumlah 31,02 juta pada tahun
2010. Namun jumlah penduduk miskin diperkirakan jauh lebih banyak lagi
(Vivanews.com, 12 Januari 2011). Maka tidak mengherankan jika masih ada sekitar
900 ribu jiwa yang mengalami gizi buruk, atau 4,5 persen dari jumlah
balita Indonesia yang mencapai 23 juta jiwa. (epaper.tempo.co/19-01-2012).
Bahkan Kepala BKKBN dengan lugas menyatakan bahwa program KB berpengaruh kepada
penurunan kemiskinan. Juga berpengaruh pada perekonomian. Keluarga kecil
akan menabung lebih banyak dan jika uangnya ditabung di bank, akan menambah public
saving yang dapat menambah lapangan kerja.
Namun, benarkah program KB ini akan
mengatasi kemiskinan? Dengan kata lain benarkah jumlah penduduk yang besar
menjadi penyebab utama kemiskinan? Jawabannya adalah tidak benar. Jumlah
penduduk yang besar jelas bukan ancaman bahkan itu adalah potensi besar, jika
kita mau melihat dari sudut pandang sebuah negara yang bervisi. Sehingga KB
jelas tidak menjadi solusi masalah kemiskinan karena penyebab kemiskinan saat
ini adalah tidak meratanya distribusi kekayaan di seluruh masyarakat.
Bertumpuknya kekayaan hanya pada segelintir orang membuat kesenjangan
makin tinggi. Di sisi lain pengelolaan sumber kekayaan alam tidak berorientasi
pada kesejahteraan rakyat, tapi hanya kepada para pemilik modal, inilah
sumbangan terbesar terjadinya kemiskinan. Dan inilah buah dari ekonomi
kapitalis yang menghasilkan kesengsaraan umat.
Apalagi menilik metode yang
dipromosikan secara gencar saat ini adalah Kontrasepsi Mantap (Kontap).
Maraknya pelaksanaan Kontap untuk pria, justru menjadi tanda tanya, program ini
untuk mengatur kelahiran, ataukah untuk membatasi kelahiran? Apalagi
sampai ada yang memberikan insentif agar program diterima masyarakat.
Meskipun Kepala BKKBN mengatakan KB
bukan untuk membatasi kelahiran, namun hanya mengatur jumlah kelahiran agar kesejahteraan
terwujud, maka perlu intervensi pemerintah tanpa mengurangi hak seseorang . Namun melihat fakta yang ada, mengindikasikan
kuat pembatasan kelahiran. Fakta ini seolah menjadi bukti bahwa adanya
asumsi keluarga Muslim dibatasi pertumbuhannya agar tidak tumbuh dengan
populasi yang memiliki kekuatan, adalah nyata.
#tugas tik_masalah kependudukan
#tugas tik_masalah kependudukan



0 komentar:
Posting Komentar