Selasa, 18 Juni 2013

Di balik program BKKBN sebagai solusi masalah kependudukan



Bagi lembaga-lembaga dunia dan negara-negara maju jumlah penduduk yang besar adalah ancaman. Apalagi pada Oktober tahun 2011 yang lalu jumlah penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar. Menurut mereka, dunia saat ini dihadapkan pada ancaman kekurangan pangan dan cadangan air bersih, termasuk Indonesia. Oleh karena itu semua negara diminta untuk menekan dan mengendalikan pertambahan penduduk. Terlebih lagi pada faktanya, kualitas penduduk Indonesia masih rendah karena banyaknya jumlah penduduk miskin yang terus bertambah. Kesenjangan dengan penduduk kaya pun semakin lebar. Bukti yang tidak terbantahkan adalah IPM (indeks pembangunan manusia) Indonesia hanya berada pada urutan 124 dan peringkat 7 di ASEAN.


Dengan sederet kondisi minus tadi, maka Indonesia harus membatasi jumlah penduduk.  Apalagi sekarang ini jumlah penduduk Indonesia menempati urutan keempat di dunia setelah India, China dan Amerika Serikat. Indonesia harus menekan jumlah kelahiran karena ternyata laju pertambahan penduduk Indonesia termasuk yang tinggi diantara negara dunia.  Indonesia menjadi negara penyumbang penduduk terbanyak kelima di dunia dengan pertambahan penduduk 3,5 -4 juta per tahun.

Namun, apakah kekhawatiran-kekhawatiran tersebut rasional atau hanya sekedar propaganda demi kepentingan politik tertentu? Ketakutan akan kekurangan pangan sebenarnya beerkembang karena pemikiran yang diadopsi Barat dari teori Malthus yang mengatakan ‘pertambahan penduduk mengikuti deret hitung, sementara pertambahan kebutuhan pangan mengikuti deret ukur“. Oleh karena itu cadangan pangan dunia akan mengalami kekurangan dengan pertambahan penduduk. Faktanya dunia memiliki cadangan pangan yang melimpah, namun  masih saja kelaparan terjadi di mana-mana.  Jelaslah, persoalan sebenarnya bukan pada ketersediaan pangan, namun pada distribusi pangan.  Dan wajar kekurangan pangan menimpa penduduk miskin dunia, karena orang-orang kaya terlalu cinta pada harta dan tidak memiliki kepedulian kepada orang miskin. Inilah sikap hidup yang lahir dari Kapitalisme.  Ketakutan akan kekurangan pangan ini juga sengaja dipropagandakan agar negara tidak memiliki jumlah penduduk yang besar.  Jumlah yang besar akan menjadi salah satu kekuatan, apalagi jika dibarengi dengan kualitas SDM nya. Tentu ini tidak dikehendaki oleh negara-negara Barat. Apalagi bila terjadi di Indonesia, negara dengan jumlah muslim yang sangat besar di dunia. Realita tumbuhnya kesadaran untuk menerapkan syariat  Islam yang makin meningkat di kalangan kaum muslim Indonesia mengancam eksistensi Barat.

Pada perkembangan berikutnya di Indonesia, kemiskinan akhirnya dijadikan sebagai alasan penggiatan program Keluarga Berencana (KB).  Memang benar, saat ini kemiskinan adalah potret utama keluarga muslim di Indonesia. Jumlah penduduk miskin (dengan pengeluaran per bulan Rp 211.726 ) Indonesia berjumlah 31,02 juta pada tahun  2010.  Namun jumlah penduduk miskin diperkirakan jauh lebih banyak lagi (Vivanews.com, 12 Januari 2011). Maka tidak mengherankan jika masih ada sekitar 900 ribu jiwa yang mengalami gizi buruk,  atau 4,5 persen dari jumlah balita Indonesia yang mencapai 23 juta jiwa. (epaper.tempo.co/19-01-2012). Bahkan Kepala BKKBN dengan lugas menyatakan bahwa program KB berpengaruh kepada penurunan kemiskinan. Juga berpengaruh pada perekonomian.  Keluarga kecil akan menabung lebih banyak dan jika uangnya ditabung di bank, akan menambah public saving yang dapat menambah lapangan kerja.

Namun, benarkah program KB ini akan mengatasi kemiskinan? Dengan kata lain benarkah jumlah penduduk yang besar menjadi penyebab utama kemiskinan? Jawabannya adalah tidak benar. Jumlah penduduk yang besar jelas bukan ancaman bahkan itu adalah potensi besar, jika kita mau melihat dari sudut pandang sebuah negara yang bervisi. Sehingga KB jelas tidak menjadi solusi masalah kemiskinan karena penyebab kemiskinan saat ini adalah tidak meratanya distribusi kekayaan di seluruh masyarakat. Bertumpuknya kekayaan hanya  pada segelintir orang membuat kesenjangan makin tinggi. Di sisi lain pengelolaan sumber kekayaan alam tidak berorientasi pada kesejahteraan rakyat, tapi hanya kepada para pemilik modal, inilah sumbangan terbesar terjadinya kemiskinan. Dan inilah buah dari ekonomi kapitalis yang menghasilkan kesengsaraan umat.

Apalagi menilik metode yang dipromosikan secara gencar saat ini adalah Kontrasepsi Mantap (Kontap). Maraknya pelaksanaan Kontap untuk pria, justru menjadi tanda tanya, program ini untuk mengatur kelahiran, ataukah untuk membatasi kelahiran?  Apalagi sampai ada yang memberikan insentif agar program diterima masyarakat.
Meskipun Kepala BKKBN mengatakan KB bukan untuk membatasi kelahiran, namun hanya mengatur jumlah kelahiran agar kesejahteraan terwujud, maka perlu intervensi pemerintah tanpa mengurangi hak seseorang . Namun melihat fakta yang ada, mengindikasikan kuat pembatasan kelahiran. Fakta ini seolah menjadi bukti  bahwa adanya asumsi keluarga Muslim dibatasi pertumbuhannya agar tidak tumbuh dengan populasi yang memiliki kekuatan, adalah nyata.


#tugas tik_masalah kependudukan

0 komentar:

Posting Komentar