Rabu, 26 Juni 2013

Meronta

Mungkin saat ini aku belum diberi kesempatan untuk pulang bertemu denganmu ,bu. Tapi aku disini baik-baik saja, dikanan kiriku banyak orang-orang yang menyayangiku, mereka menghormatiku, menghargai aku ,dan aku pun senang berada disekitar mereka ,bu.

Bu, jika aku jujur.  Hati ini menangis, meronta ingin pulang, ingin bersandar dipangkuanmu, bu. Meski hanya beberapa detik saja. Bu, ada dua hal yang membuatku enggan untuk pulang. Enggan bukan berarti aku tak rindu orang-orang rumah, bukan bu. Sama sekali bukan.

Pertama mungkin ibu paham dengan kondisiku saat ini, sekarang aku lagi meniti masa depan, bu .Yaaa aku harap ibu mengerti aku. Tiap malam aku selalu meluangkan waktu untuk merenungi ni semua, merenung meski hanya kungkungan diri. Hati ini selalu tak kuat menahan tekanan yang terus bergemuruh melawan keinginanku untuk pulang. Di sisi lain, malaikat jahat selalu berbisik padaku, agar terus tetap stay cool in here. Anehnya malaikat jahat itu selalu menang melawan malaikat baik, apa mungkin saking baiknya malaikat baik itu, jadi dia bermurah hati untuk merelakan malaikat jahat itu untuk menang. Ahhh... sungguh itu konyol.

Untuk alasan kedua, mungkin ibu sangat memakluminya. Yahh apa lagi kalau bukan biaya untuk ku pulang. Bu, ongkos untuk aku pulang ke kampung halman sepertinya aku harus memenuhi kaleng susu terlebih dahulu, minimal kupenuhi dengan lembaran merah mungkin itu cukup, ahh.. tidak itu baru cukup setengah perjalan saja. harus ku isi lagi dengan lembaran biru, yahhh.. mungkin itu bisa mencukupi untuk aku pulang. 

Bu mungkin aku tak pulang gara-gara presiden kita, bu (yaahh ..bisa jadi), kenapa ? Dia mencoba menjauhkanku dari mu, bu.  Dengan alih-alih menaikan harga BBM yang jelas-jelas mencekik kantongku, sehingga aku tak mampu untuk membeli tiket pulang,bu. Bu, aku tak ingin disebut "anak yang tak peduli orang tua"., sama sekali tidak mau, bu.

Bu, sekarang semua mahal, mulai dari nasi rames smpe ongkos yang kemarin jauh dekat cuma seribu, sekarang naik, bu. Bu itu presiden kita bukan ? kok jahat banget ? tega memisahkan aku dengan mu, bu.

Aku paham betul kondisi ibu saat ini, ibu pasti sedih tak pernah melihatku pulang meski yang lain libur. Bu harga beras saat ini berapa ? harga bawang ? cabe ? kangkung ? merangkak naik ya bu ?. aduhh sungguh aku tak tega meliaht ibu berdebat dengan pedagang sayur itu gara-gara haga naik meski hanya seperak...

Bu, aku masih tetap yang dulu kok, yahhh mungkin ada sedikit rombakan dalm pemahaman ideologiku. Tapi jangan khawatir aku masih berada di jalur yang aman masih dibingkai keimanan. Aku bersyukur berada di lingkungan yang membuatku nyaman dan tentram.

Mungkin ini celotehanku yang meronta untuk pulang. :)


                                                             

                                                                                                         Semarang, 27 Juni 2013
                                                                                                      

Kamis, 20 Juni 2013

UNTUK BAPAK PRESIDEN



Pak Presiden yang baik,
Kelak bila harga BBM naik, dengan gagah dan baik hati konon Bapak akan memberi kami kompensasi
Bapak akan membuat kami
mengantre untuk mendapatkan uang bantuan agar kami tak merasa kesulitan. Tapi, pikiran kami sederhana saja, Pak, benarkah Bapak
suka melihat kami mengantre panjang mengular dari Sabang
sampai Merauke? Kami tidak suka itu, Pak. Kami tak suka terlihat miskin, apalagi menjadi miskin.
Kalau memang Bapak punya uang untuk dibagikan kepada kami,
pakailah uang itu, kami rela
meminjamkannya untuk
menyelamatkan ‘perekonomian
nasional’ yang konon sedang gawat itu.
Tak perlu naikkan BBM,
pakailah uang kami itu: kami rela meminjamkannya untuk
menyelamatkan bangsa!
Hidup kami sederhana, disambung lembaran-lembaran uang recehan.
Ilmu hitung kami kelas rendahan:
berapa untuk makan sehari-hari, uang jajan anak sekolah, biaya
transportasi, biaya listrik bulanan, dan kadang-kadang cicilan motor,
dispenser atau DVD player. Tak perlu kalkulator. Bila sedang beruntung, kami bisa punya sisa uang untuk jalan-jalan di akhir
pekan. Bila sedang sulit, kami tidak kemana-mana, Pak: Kami mencari
kebahagiaan gratisan di televisi meski kadang kadang justru dibuat
pusing dengan berita-berita tentang beberapa anak buah Bapak yang
korupsi.
Bila perlu, berdirilah di hadapan kami, katakan apa yang negara
perlukan dari kami untuk
menyelamatkan kegawatan bencana
ekonomi negara ini? Bila Bapak perlu uang, kami akan menjual ayam, sapi, mesin jahit, jam tangan,
atau apa saja agar terkumpul sejumlah uang untuk melakukan pembangunan dan penyelamatan perekonomian bangsa. Bila Bapak disandra mafia, pejabat-pejabat yang bangsat, atau pengusaha-
pengusaha yang menghisap rakyat,
tolong beritahu kami: siapa saja mereka? Kami akan bersatu untuk
membantumu melenyapkan mereka.
Tentu saja, semoga Anda bukan salah satu bagian dari mereka!

Selasa, 18 Juni 2013

Sesaknya Negeri Ini

Lihat kawan betapa sesaknya negeri kita, untuk bernapas terasa pengap. Seolah tak ada ruang untuk rehat. Dulu negeriku luas kawan, ya.. luas sekali, pepohonan tumbuh subur dimana-mana, rumput bebas bergoyang-goyang tanpa ada yang mencekal. pepohonan pun bebas melambai-lambai, seolah tak ada sekat untuk begerak. tapi kini, lihatlah kawan!!


Kami terjepit di tengah himpitan gedung-gedung tinggi, 
Mereka bebas membangun gedung-gedung pencakar langit, tanpa mempedulikan kami,
Mereka apatis terhadap sesama penghuni negeri,
Dulu negeri kita kaya, kawan. Kaya akan lahannya, sumberdayanya, bahkan orang-orangnya pun ramah tamah terhadap sesama.
Mereka bebas berekspresi, tannpa ada yang mengkritiki.
Bahkan bebas berdiri sepanjang hari pun tak ada yang peduli.
Tapi kini , coba lirik ini kawan !!
Kini untuk berjalan saja harus inchi demi inchi, tak heran banyak nama tempat di negeri ini dengan sebutan gang senggol, karena saking banyaknya penduduk negeri ini.
Kawan ini renungan diri,
Untuk dijadikan instrospeksi,


Semarang, 19 Juni 2013

#tugas tik_masalah kependudukan

Gelap Terus



Disini aku terbaring, merasakan segala derita yang teramat rancu, tergelepak tak juga tegak. Lama kondisi ini aku derita, hitungan hari, bulan,bahkan tahun, tak kunjung terang gelap ini. Aku butuh lentera untuk kebangkitanku, butuh cahaya yang mampu menegakkanu. Meski cahaya itu muncul dai celah-celah bambu tak apa, setidaknya ada cahaya.


Ak terjatuh dalam kondisi gelap ini, tersungkur mereka yang bercahaya. Sesekali aku terinjak oleh mereka sang penegak. Menoleh ,Ahhhgrr..... sayang mata ini sudah buta. Tolong lambaikan tanganmu ! padaku yang masih tersapu oleh mereka yang seperti hantu.

Kami Terjepit



Tuhan, kami tahu setelah kesusahan pasti datang kemudahan, kami benar-benar meyakini itu. Tapi kenapa di negeriku seolah tak pernah nampak kemudahan ini, malah yang sering muncul hanya petinggi-petinggi negeri yang tak tahu konsep diri.
Kini kami tertindas, Tuhan…
Kami didzolimi oleh mereka yang sedang duduk di “kursi”…
Kami menangis, teriris dan meringis…
Hak  kami dirampas…
Kami pun tertindas…

Kini BBM telah naik dan kami tak tahu kemana harus melirik.
Ke kiri ? ahh… mereka sibuk mengurus diri,
ke kanan ? sepertinya mereka tak mau tahu kalau kami kini sedang tertekan,


Ibu bersedih karena dapurnya tak ngebul lagi…
Hanya berdiam diri aktivitasnya kini…
Karena tak tahu apa yang harus dibeli…

BBM naik-BBM naik kami terjepit..
Tercekik…..


#tugas tik_masalah kependudukan

Di balik program BKKBN sebagai solusi masalah kependudukan



Bagi lembaga-lembaga dunia dan negara-negara maju jumlah penduduk yang besar adalah ancaman. Apalagi pada Oktober tahun 2011 yang lalu jumlah penduduk dunia sudah mencapai 7 miliar. Menurut mereka, dunia saat ini dihadapkan pada ancaman kekurangan pangan dan cadangan air bersih, termasuk Indonesia. Oleh karena itu semua negara diminta untuk menekan dan mengendalikan pertambahan penduduk. Terlebih lagi pada faktanya, kualitas penduduk Indonesia masih rendah karena banyaknya jumlah penduduk miskin yang terus bertambah. Kesenjangan dengan penduduk kaya pun semakin lebar. Bukti yang tidak terbantahkan adalah IPM (indeks pembangunan manusia) Indonesia hanya berada pada urutan 124 dan peringkat 7 di ASEAN.

"Subur"nya Negeriku


Seratus tiga piluh lima juta jiwa
Penduduk Indonesia
Terdiri dari banyak suku bangsa
Itulah Indonesia

Ada Sunda, ada Jawa, Aceh, Padang, Batak
Dan banyak lagi yang lainnya………….

Yahh, itulah kira – kira sepenggal lirik dari bang raja dangdut kita. Anda pasti hafal dengan lanjutan lirik lagu itu.

Disini saya akan menulis tentang kondisi kependudukan yang ada di negeri kita tercinta ini.

Dari Sabang sampai Merauke jumlah lonjakan penduduk yang memadati bumi kita (baca : Indonesia) sungguh luar biasa tingkat pertumbuhannya. Angka kelairan tiap tahun di negeri ini semakin tahun semakin tinggi. Adapun data jumlah dan laju pertumbuhan penduduk di Indonesia yaitu :